Ketipung: gendang dangdut yang meniru tabla dari India

Ketipung adalah sepasang gendang kecil yang menjadi penanda bunyi dangdut. Alat ini diturunkan dari tabla, gendang asal India, dan menghasilkan bunyi dang dan dut yang menjadi asal nama genre ini.

Oleh Redaksi Sumo38 · Editor Rizky Ramadhan · 3 menit baca · Diperbarui

Mulai baca
  1. Dari tabla ke ketipung0:31
  2. Perbandingan tabla dan ketipung0:29
  3. Bunyi dang dan dut0:23
  4. Ketipung dalam koplo0:26
  5. Ketipung bukan kendang gamelan0:35
  6. Cara mendengarkan ketipung0:16
  7. Pertanyaan umum0:25
  8. Sumber0:08

Dari tabla ke ketipung

Tabla adalah sepasang gendang tangan dari Asia Selatan. Sejak abad ke-18, tabla menjadi alat perkusi utama dalam musik klasik Hindustani dari India utara.

Bunyi tabla masuk ke telinga orang Indonesia lewat film India yang ramai diputar pada 1950-an. Orkes Melayu di Jakarta lalu meniru bunyi itu.

Menurut etnomusikolog Supriyadi dalam tulisannya di Alamtara, ketipung sesungguhnya adalah replika tabla dengan beberapa perubahan. Bentuknya lebih ramping dan lebih pendek. Cara menyetemnya juga berbeda.

Supriyadi menjelaskan mengapa tabla asli perlahan hilang dari dangdut. Tabla punya lebih dari 15 macam bunyi, sedangkan dangdut hanya memerlukan beberapa. Alat yang lebih sederhana terasa lebih praktis.

Perbandingan tabla dan ketipung

HalTablaKetipung dangdut
AsalIndia, berkembang pada abad ke-18Indonesia, turunan tabla
JumlahDua gendang: dayan (kecil) dan baya (besar)Dua gendang, satu bernada tinggi dan satu bernada rendah
BentukDayan dari kayu, baya berbentuk periuk dari logam atau tanah liatLebih ramping dan lebih pendek
Ragam bunyiLebih dari 15 macamHanya beberapa yang dipakai
Cara mainUjung jari dan telapak tangan, dari atasUjung jari dan telapak tangan, dari atas

Pada tabla, gendang kecil berdiameter sekitar 15 sentimeter dan gendang besar sekitar 20 sentimeter. Di tengah kulitnya ada lingkaran hitam yang disebut syahi. Lapisan itu membuat tabla menghasilkan nada yang jernih.

Bunyi dang dan dut

Nama dangdut meniru bunyi gendang ini. "Dang" adalah pukulan nyaring. "Dut" adalah bunyi rendah yang dihasilkan dengan menggeser tangan di atas kulit gendang, sehingga nadanya melengkung.

Peneliti Michael H.B. Raditya mencatat bahwa kata dangdut awalnya dipakai sebagai ejekan untuk orkes Melayu bergaya Hindustan. Istilah itu baru dikenal luas pada 1970-an.

Imbangan dua bunyi itu menentukan rasa lagu. Menurut Raditya, dangdut klasik menonjolkan bunyi "dut". Dangdut koplo sebaliknya menonjolkan bunyi "dang", sehingga suasananya lebih semarak.

Ketipung dalam koplo

Dalam koplo, pemain gendang menyerap pola dari banyak sumber. Raditya menyebut jaipongan, ronggeng, tayub, dan musik house. Jaipongan, ronggeng, dan tayub adalah tari rakyat Jawa dan Sunda yang diiringi kendang.

Hasilnya adalah pukulan yang lebih rapat dan lebih cepat. Bunyi "dang" yang berulang berfungsi sebagai pengatur tempo bagi seluruh pemain dan penjoget. Cara mengukur tempo dijelaskan di panduan apa itu BPM.

Pukulan gendang koplo biasanya dibarengi senggakan, yaitu teriakan pendek dari pemain. Supriyadi menulis bahwa ketipung dan senggakan tidak terpisahkan dalam koplo.

Ketipung bukan kendang gamelan

Orang sering menyebut semua gendang sebagai kendang. Padahal kendang dalam gamelan Jawa, Sunda, dan Bali adalah alat yang berbeda. Kendang gamelan berbentuk tabung kayu dengan kulit di kedua ujungnya dan dimainkan mendatar.

Menurut Gramedia, kayu yang biasa dipakai untuk kendang adalah kayu nangka, dengan kulit kerbau atau sapi. Gambar kendang sudah muncul di relief candi sejak abad ke-9, termasuk di Borobudur dan Prambanan.

Nama ketipung sendiri kemungkinan dipinjam dari gamelan. Supriyadi menduga nama itu diambil dari kendhang ketipung, kendang kecil bernada nyaring dalam gamelan Jawa. Ini dugaan penulisnya, bukan fakta yang sudah pasti.

Supriyadi juga mengingatkan bahwa menyamakan ketipung dengan kendang pada umumnya mengaburkan riwayatnya sendiri. Ketipung punya cerita yang terikat pada dangdut.

Cara mendengarkan ketipung

Pilih satu lagu dangdut klasik dan dengarkan dengan pelantang telinga. Pusatkan perhatian pada bunyi rendah yang melengkung di setiap akhir ketukan. Itulah "dut".

Lalu putar satu lagu koplo. Bunyi nyaring "dang" akan terdengar jauh lebih sering. Panduan struktur lagu membantu mengenali di bagian mana gendang berganti pola, biasanya menjelang reff.

Pertanyaan umum

Apa beda ketipung dan tabla?

Ketipung adalah turunan tabla yang disederhanakan. Bentuknya lebih ramping dan pendek, cara menyetemnya berbeda, dan ragam bunyi yang dipakai lebih sedikit.

Mengapa musik ini disebut dangdut?

Nama dangdut meniru bunyi gendangnya, yaitu pukulan dang yang nyaring dan dut yang rendah. Istilah ini awalnya ejekan dan baru dikenal luas pada 1970-an.

Apa beda pukulan gendang dangdut dan koplo?

Dangdut klasik menonjolkan bunyi dut yang rendah. Koplo menonjolkan bunyi dang yang nyaring, dengan pukulan lebih rapat dan lebih cepat.

Sumber

Artikel lain tentang dangdut

  1. Makna lagu Aku Dah Lupa dari Mikky dan Zia tentang melupakan mantanLagu hipdut tentang lega dan bebas setelah berhasil melupakan mantan kekasih.2:29
  2. Makna lagu Garam dan Madu (Sakit Dadaku) dan capaiannyaLagu hipdut tentang rindu dan ragu yang memuncaki tangga lagu Indonesia dan Malaysia.2:39
  3. Profil Gustiwiw, pencipta Diculik Cinta dan gaya musik endikupMusisi muda Bekasi yang menyebut musiknya endikup, pemenang anumerta AMI Awards 2025.2:40

Baca juga

Sedang dibacaPembuka

0:00